Mata dari Nenek tua

puisi

puisi

Sore-sore minggu yang sendu

Disayukan NENEK tua

Melenggok ke jendela

Lewat kelusuhan

Atas kelusuhan ambal

Antara meja dan ranjang

Cermin dan foto

Kursi dan palma titeron

Bersandar kerangka di jendela

Mereka nanapi jalan raya

Dari itulah kesia-siaan

Sore-sore minggu

Mata dari Nenek

Tiada berlinang dan segan-segan

Cemas dan lembut

Mata terpaku pada ujung

Buah sonder biji

Talam sonder atalan

Ruang ruang kelemahan

Fragmen-fragmen music tua

Sumur-sumur berisi lumpur

Genangan air sonder pembayangan

Nenek  tersandung ke dalam kematian

Dan perhentian yang telah begitu sedikit

Sepanjang jalan-jalan yang dikenal

Hanya debu-debu atas sulaman

Ujung ambal yang melekuk

Rimah yang jatuh

Segala itu perhentian-perhentian

Tangan-tangan erempuan-perempuan tua

Lupa sekarang mengelus tengkuk laki-laki

Rambut kanak-kanak

Hanya cukup kuat

Untuk pengikat selampai

Penghapus air mata

Rambut-rambut Nenek

Tiada ia beroleh belaian angin

Tiada yang sembunyikan wajahnya

Tiada yang membasahi bibirnya

Dalam embun bereka

Tiada kain buat siapapun juga

Hanya satu lengkuk kecil

Dapat dibuat dari itu

Sore-sore minggu yang mati

Sedih karena wajah Nenek

Di mana hanya terbayang

Kebosanan dan penyakit

Tiada kenangan, tiada renungan

Tiad kerinduan, tiada harapan

Hanya cacing ketiduran

Oh sore-sore minggu yang sedih

Atas kuburan Nenek

By: FRANTISEK HALAS

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: